May
19
Buku ” Ilusi Negara Islam”, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia
May 19, 2009 | Tagged buku ilusi negara islam, buku kontroversial, gerakan radikal Indonesia, Muhammadiyah, NU, PKS |
Buku kontroversial kembali hadir di Indonesia. Setidaknya bagi sekelompok orang. Karena di beberapa daerah buku ini sudah masuk dalam daftar hitam (black list) dan dirazia di sejumlah toko2 buku yang menjualnya. Buku ini kalau dilihat dari judulnya, memang dengan tegas dan gamblang membidik kalangan tertentu dalam masyarakat Indonesia ini. Dan targetnya pun jelas. Lagi-lagi PKS berada dalam salah satu pembahasan di buku tersebut.
Buku ini disajikan oleh 3 orang, yaitu Gus Dur sebagai editor, Syafi’i Maarif sebagai penulis prolog dan Gus Mus sebagai penulis Epilog. Buku ini sendiri diterbitkan oleh Wahid Institute, Maarif Institute dan gerakan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam pengantarnya, Gus Dur menyatakan bahwa buku ini merupakan hasil penelitian selama lebih dari 2 tahun.
Melihat waktu yang lama tersebut, penulis dan penerbit memang sangat serius dalam menerbitkan buku ini. Sorotan yang tajam dan terbuka ini, tak pelak akan menimbulkan kontroversi yang luar biasa. Khususnya bagi mereka2 yang terkena “tembak” dari buku ini. Cepat atau lambat, saya kira pasti akan terjadi reaksi yang lebih besar atas terbitnya buku ini. Semoga reaksinya juga dengan menerbitkan buku yang menentang atapun menyanggah apa yang ada dalam tulisan2 tersebut. Bukan dengan otot dan kekerasan.
NU dan Muhammadiyah merupakan 2 organisasi Islam yang dengan terang2an menolak Islam garis keras ini dan bahkan Muhammadiyah mengeluarkan Surat Keputusan tentang ” pembersihan” muhammadiyah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Apakah ini murni permasalahan ke bhinnekaan yang terancam, ataukah lebih jauh ini merupakan permasalahan politik semata yang akhir2 ini PKB dan PAN suaranya terus merosot sedangkan PKS suaranya lumayan stabil atau boleh dikatakan naik. Ataukah kedua2nya ? Wallohu ‘alam.
Yang jelas, negara kita adalah NKRI dan tidak bisa ditawar lagi.
Penasaran dengan bukunya ? silahkan download di sini.
Comments
49 Comments so far















tetap semangat dalam berkarya
Ilusi Negara Islam, cermin inkonsistensi penganut pluralis. katanya pluralis, tapi tidak pernah ridho dg pluralisme alias keberagaman….weks…maunya apa nih para gus gus…
setuju nih. biasanya mereka selalu menyuarakan pluralisme. ada juga yang liberalisme nyatanya plularisme tidak menghendaki keberagaman pandangan. liberalisme tidak menginginkan seseorang yang ingin bebas menjalankan syariah. seperti negara turki yang 90% lebih beragama islam dengan sistem negara liberal yang melarang wanita mengenakan jilbab di tempat umum. lantas apa itu liberasime, pluralisme. penganutnya sendiri tidak memahami makna ?
Ini buku berbeda. Sedikit menjawab kenapa orang-orang di sekelilingku kok tiba-tiba jadi “keras.”? Thanks to para penulis.
no coment dulu ach …
mending liat dulu masa lalu sapa tau ada pencerahan
http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/19/penyemai-%e2%80%98virus%e2%80%99-ideologi-komunisme-antara-sneevliet-mas-marco-kartodikromo-dan-haji-misbach/
@lembucinta & hanafi: mencoba menjawab pertanyaannya saja… Mohon maaf bila kurang tepat..
Pluralisme artinya adanya kelompok yang berbeda dalam etnis, agama, ataupun politik di suatu masyarakat.
Liberalisme artinya kepercayaan untuk toleransi dan secara perlahan mereformasi moral, agama, ataupun masalah politik.
(sumber: encarta 2009)
Nah, pluralis tidak senang dengan negara islam karena tidak mendukung adanya keberagaman (kalau tidak islam, maka tidak boleh ada: menghilangkan keberagaman dalam agama).
Liberal yang beda-beda tipis sama pluralisme juga tidak mendukung negara islam, karena negara islam ini tidak mendukung toleransi (agama lain) dan tidak akan mereformasi moral, agama, ataupun masalah politik (mengacu pada pemikiran-pemikiran tua seperti di Arab ataupun Iran - terutama Iran yg dapat terlihat jelas sekali akan aksinya Ahmadinejad melawan pemikiran tua).
Turki melakukan hal seperti itu karena hal yang sama dengan Perancis (tidak boleh mengenakan ornamen agama yang nyata). Itu pastinya ditujukan untuk mencegah munculnya kaum ekstrim pendukung agama tertentu karena kaum ekstrim selalu mengacaukan kepemerintahan dan menekan perkembangan ekonomi (dengan konflik dan perang; lihat nasib Afghanistan dan Lebanon ataupun Irlandia). Masyarakat mereka tidak ingin kemajuan negara mereka dihambat oleh para kaum ekstrim ini.
Memang jadinya Turki tidak pluralisme. Tetapi, mungkin dengan langkahnya tersebut ia akan mencegah adanya sistem masyarakat yang super homogen (seperti yang dideskripsikan di Ilusi negara islam). Demikian jawaban saya.. Moga bermakna…
Saya sependapat dengan mas lembucinta. kaum yang menyebut dirinya pluralis kerap merasa terganggu dengan pemahaman islam yang mereka labeli dengan garis keras itu. Bukankah dengan slogan kebhinekaan dan tingkat toleransi mereka yg katanya tinggi seharusnya bisa merespon dengan lebih bijak. Lagipula segala embel-embel seperti garis keras, Inclusif, eksklusif, Moderat, fundamental dll itu apa sebenarnya?
Islam ya islam saja.
Segala pengklasifikasian/pelabelan harusnya sama-sama kita sikapi dengan hati-hati. karena tidak ada jaminan hal itu bukan merupakan upaya buat mengiris-iris dan melemahkan.
kenapa Ilusi dilawan dengan rekomendasi strategis dari keluarga besar LibforALL ?
http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/22/ilusi-negara-islam-kenapa-ilusi-dilawan-rekomendasi-strategis/
Gus Dur, Syafei ma’arif, dan tokoh2 yang mangaku sbg pluraslis lainnya, sekarang sudah benar-benar ketahuan kedoknya. Diman-mana mereka gembar-gembor bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang toleran, menghargai pendapat, idelogi dan keyakinan orang lain. Tapi kenyataannya justru “Tokoh2 Pluralis” itulah yang paling tidak toleran. Kenapa sih harus mempersoalkan “Gerakan Transnasional” (kalo memang ada — pen)? Apa salahnya gerakan itu? Padahal sekarang ini banyak hal-hal yang berasal dari luar.
Mulai dari makanan sampai ideologi sosialisme, liberalisme, kapitalisme, dan lainnya. Itu semua berasal dari luar. Kenapa mesti ketakutan? Apakah semua itu mengancam NKRI?
Norak betul sih cara berpikir tokoh kita ini. Udah zaman globalisasi seperti sekarang ini, Kok masih ketakutan pengaruh dari luar?
Lebih Norak lagi, tokoh gerakan Islam (NU & Muhammadiyah) kok takut dengan Negara Islam. Saya benar-benar mempertanyakan komitmen keislaman mereka.
Di era demokrasi seperti sekarang ini, masih saja mau melarang orang lain untuk meraih cita-citanya. Sekarang Anda mau apa, kalau 90 persen (berdasarkan hasil Pemilu/refrendum) rakyat Indonesia menghendaki negara Islam? Apa Anda mau cegah??? Hah??? Serahkan semua kepada rakyat.
Saya sudah tahu, yang Anda takutkan itu sebenarnya bukan ancaman terhadap Indonesia. Tapi Anda takut jika NU dan Muhammadiyah itu makin ditinggalkan rakyat….. Anda takut HTI, PKS, FPI, MMI …makin dincintai umat Islam karena pembelaan mereka terhadap orang-orang tertindas…
Sebenarnya aku mau komentar, tapi berhubung aku belum pernah membaca, jadi takut komentar. Takut salah…
wah partai saya PKS sedang di omongin rupanya
duh lagi asyik membicarakan buku kontroversi nie….. awas saudaraku semuanya terutama ummat islma jangan mudah diombang-ambing dengan suatu yang belum jelas kebenarannya… berlindunglah pada-Nya karena hanya Dia yang Maha Tahu…. jangan lihat gelar atau apapun… lihatlah perilakunya apakah sudah mencerminkan seorang muslim sejati…. heee..
wassalam
Mu’alaf Ammah
Hohoho..
damai saja.. damai damailah Indonesiaku..
nggak usah ribut dan diributin..
masalah agama itu masalah hati, ndak bisa dipaksa, ndak bisa diketahui.
btw, saya setuju sama mhsw. penjelasannya masuk akal dan tidak menyalahkan pihak mana pun.
saya nanti mau download bukunya, ini masih komentar pake hp. dan kalau tnyata isinya tidak sesuai nurani saya, saya tetep menghargai hasil penelitiannya, dan berusaha mengambil hikmah dari isinya.
sudah sudah, ngga usah debat kusir, semua punya dasar masing2, sama sama dari Al-Qur’an dan Hadits.
CMIIW
Hemmm Indonesia memang penuh dengan berbagai macam fenomena yang menarik…
Hihhi… Bukunya masih sudah/masih beredar nggak…?
wahhh
penasaran neh pengen baca bukunya
sungguh aneh benar buku ini, kalo pengen menjaga budaya indonesia kenapa harus islam yang disalahkan….bukanya kerajaan juga budaya indonesia,mengapa mereka merusak dengan ideologi transnasional demokrasi?…welwh..weleh…dasar bayaran…….
wah, makin banyak aja anakbuahnya Abdullah bin Ubai bain Salul, seorang tokoh munafiqun, yang jenazahnya gak boleh si sholatkan. si munafiq ini ingin menghancurkan islam karena pesanan kaum kafir quraisy, dan yahudi arab,meraka gak diterima di sorga, nauzubillah hi min dzalik
Saya penasaran tentang isi buku “Ilusi Negara Islam.” Ingin membacanya dulu sebelum berkomentar agar tidak salah kamprah. Dimanakah buku tersebut bisa diperoleh?
Buku ‘Ilusi Negara Islam’ Mengadu Domba Ummat
By Republika Newsroom
YOGYAKARTA — Peneliti Yogyakarta, Dr Zuli Qodir, Adur Rozaki MSi, Laode Arham SS, Nur Khalik Ridwan SAg melakukan protes terhadap buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang diterbitkan The Wahid Istitute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Buku tersebut dinilai tidak sesuai dengan apa yang mereka teliti dan isinya mengadu domba umat Islam.
”Saya tidak berani lagi pulang ke Madura, karena terbitnya buku ini. Bisa-bisa saya dikalungi clurit karena buku ini mengadu domba umat Islam,” kata Abdur Rozaki di Kantor Republika Yogyakarta, Senin (25/5).
Dijelaskan Zuli Qodir, isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ bukan merupakan hasil penelitiannya meskipun mereka disebut sebagai penelitinya. Sebab isi dari buku tersebut telah menyimpang dari apa yang mereka teliti. Selain itu, pihaknya juga tidak dilibatkan dalam proses penerbitan.
”Kami tidak pernah diajak dialog di dalam proses menganalisis data dan membuat laporan peneliltian sampai penerbitan menjadi sebuah buku,” kata Zuli.
Bahkan, lanjut Zuli, dalam proses pengumpulan data, beberapa nama yang dicantumkan dalam buku tersebut sebagai peneliti jauh hari sudah mengundurkan diri namun masih dicantumkan, seperti Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki. Sehingga keduanya sudah tidak terlibat lagi dalam tahap penelitian mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan hingga penerbitan buku.
Kata Zuli, tujuan penerbitan buku ‘Ilusi Negara Islam’ telah bergeser dari riset yang semula bertujuan akademik kepada politis. Kondisi ini diperkuat hampir semua peneliti daerah yang namanya tercantum dalam buku tersebut tidak pernah diajak untuk berdialog menganalisis temuannya dalam kerangka laporan hasil penelitian yang utuh.
”Para peneliti daerah namanya dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing. Sebagaimana dilakukan Holland Taylor dari //Lib for All,// Amerika Serikat yang begitu dominan bekerja dalam kepentingan riset dan penerbitan buku ini.
Karena itu, peneliti Yogyakarta menuntut kepada //Lib for All// untuk menarik peredaran buku tersebut jika tetap mencantumkan nama-nama peneliti Yogyakarta. ”Kami menghimbau kepada para peneliti dan intelektual Indonesia untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah diperalat dan dimanipulasi oleh kepentingan agen intelektual asing yang bekerja di Indonesia,” tandas peneliti Yogyakarta.
Bahkan yang aneh dari peneribatan buku tersebut adalah pencantuman KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur sebagai editornya. Padahal selama ini Gus Dur terganggu penglihatannya sehingga tidak mungkin Gus Dur bisa mengeditnya. ”Ini sudah kebablasan,” kata Abdur Rozaki.
Sementara Ahmad Suadey, Direktur The Wahid Institute kepada Zuli Qodir mengirim SMS bahwa dirinya tidak tahu persis isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang diterbitkannya. Karena itu, dirinya merasa kaget ketika mendapat protes dari peneliti Yogyakarta.
”Aku malah baru tahu ini. Kalau gitu perlu klarifikasi ke //Lib for All.// Kalau perlu teman-teman bikin nota protes tertulis. Aku gak keberatan karena saya tidak berhubungan dengan isi sama sekali,” kata Ahmad Suaedy. -hep/ahi
Janganlah selalu berprasangka buruk….bertabayyunlah dulu….
generasi sampah… generasi idiologi sampah.. umur-mu sudah di atas 60-an aku tidak berharap taubat kalian. segeralah kalian menyusul mustapha kemal, sukarno dan abu jahal… aku tidak keberatan. aku adalah korban idiologi sampah-mu. ketika otaku sedang segar-segarnya untuk mengingat sesuatu, komplotan kalian memberiku dan kawan angkatanku “penataran pancasila”. seniormu, sukarno sudah mati, kepada siapa kalian akan bertanya.. tentang hal ikhwal “jembatan emas”… orang-orang terhebat kalian sudah mati.. kemal, sukarno, syahrir, tan malaka. pendahulu kamipun sudah meninggal. kahar muzakar, daud beureuh, kartosuwiryo.. imam bonjol. tapi Qur’an dan hadist masih ada. “akan selalu ada sekelompok orang yang Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepada Allah”. kalian adalah generasi sampah yang hanya mencari ridho dari zionist. ahirnya aku ingin bertanya, kalau mati kalian ingin dikubur dengan cara apa???? soal daulah khilafah itu adalah taqdir Allah. ketidak sukaan kalian tidak akan mampu menghalangi berdirinya kembali Khilafah ‘ala minhajiNubuwah…
KETERANGAN PERS: Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Buku Ilusi Negara Islam
Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang diluncurkan beberapa waktu lalu itu sebenarnya tidak layak dibaca apalagi ditanggapi. Meski diklaim sebagai karya ilmiah, dan konon merupakan hasil penelitian selama dua tahun, namun semuanya itu tidak bisa menutupi fakta, bahwa buku ini sangat tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas sebuah penelitian. Alih-alih bersikap obyektif, buku ini justru dipenuhi dengan ilusi, kebencian dan provokasi penyusunnya. Inilah yang mendorong kami untuk menanggapi buku ini, khususnya yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir, sebagai berikut:
Dari aspek metodologi: Pertama, dari sisi referensi: Buku ini sama sekali tidak menggunakan referensi utama (primer), yaitu buku-buku resmi Hizbut Tahrir. Satu-satunya referensi resmi yang digunakan adalah booklet Selamatkan Indonesia dengan Syariah, itu pun tampaknya hanya dicomot judulnya. Selebihnya, pandangan dan sikap penyusun buku tersebut tentang Hizbut Tahrir didasarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang dibangun oleh Zeno Baran dalam bukunya, Hizb ut-Tahrir: Islam’s Political Insurgency (Washington: Nixon Center, 2004) dan Ed. Husain dalam bukunya, The Islamist (London: Penguin Books, 2007). Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa baik Zeno Baran yang berdarah Yahudi maupun Ed. Husain adalah sama-sama bukan orang yang ahli tentang Hizbut Tahrir. Ed. Husain yang diklaim sebagai salah seorang pimpinan Hizb terbukti bohong, yang memang sengaja dibangun untuk menunjukkan kredebilitas karyanya, yang sesungguhnya tidak kredibel. Dari sini saja, sebenarnya cukup untuk membuktikan, bahwa buku Ilusi Negara Islam ini sebenarnya tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas. Karena itu, kesimpulan-kesimpulan yang dibangun di dalamnya tidak lebih dari ilusi penyusunnya. Bahkan, buku ini juga sangat narsis, karena kebencian dan provokasi yang ditaburkan di dalamnya mulai dari awal hingga akhir. Tampak jelas, bahwa buku ini disusun dengan target, bukan sekedar untuk mengemukakan pandangan, tetapi untuk memobilisasi perlawanan. Kedua, cara menarik kongklusi: Kongklusi di dalam buku ini banyak ditarik dengan menggunakan analogi generalisasi (qiyas syumuli), sehingga menganggap semua kelompok dan organisasi yang nyata-nyata berbeda, seperti DDII, MMI, PKS dan HTI sebagai sama. Ini adalah bukti, bahwa buku ini tidak obyektif. Lebih-lebih ketika, sejak pertama kali, penyusun buku ini sudah melakukan monsterisasi terhadap Wahabi, kemudian mengeneralisasi bahwa semua organisasi Islam yang tidak sepaham denganya dicap Wahabi. Ini jelas merupakan kesalahan berpikir yang sangat fatal, dan kalau tujuannya untuk mengungkap kebenaran, maka cara-cara seperti ini tidak akan pernah menemukan kebenaran apapun. Ketiga: inkonsistensi cara berpikir: Buku ini menyerang cara berpikir literalisme tertutup, tetapi pada saat yang sama penyusun buku ini menggunakan teks hadits, dengan makna literal, dan sangat tertutup, karena tidak mau melihat nas-nas yang lain. Seperti, Umirtu an uqatila an-nas hatta yaqulu la’ilaha illa-Llah (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka menyatakan la’ilaha illa-Llah), yang kemudian ditafsirkan, bahwa ini tidak berarti boleh memerangi orang Kafir, karena tidak ada penegasan tentang keyakinan akan kerasulan Muhammad saw.
Dari aspek isi: Buku ini menawarkan: Pertama, Islam yang toleran, tapi anehnya penyusunnya sendiri dengan sangat narsis tidak toleran dengan sesama Muslim, dengan terus-menerus menyerang mereka sebagai kaum literalis tertutup, dan stigma-stigma negatif lainnya. Di sisi lain, ketika mereka sendiri tidak bisa bersikap toleran terhadap kaum Muslim, mereka malah menyerukan toleransi terhadap kaum Kafir, dengan justifikasi bahwa mereka adalah Muslim juga. Malah, ayat dan hadits yang memerintahkan untuk memerangi mereka pun harus ditafsir ulang agar sejalan dengan maksud mereka. Jadi, nalar yang dibangun dalam buku ini jelas sekali, sangat tidak konsisten. Kedua, perdamaian dan Islam yang damai, tapi penyusun buku ini justru menyulut bara api yang sudah padam, seperti sejarah kelam Khawarij dan Wahabi yang sudah dilupakan oleh kaum Muslim. Dalam kasus Wahabi, jelas sekali bahwa ini dimaksud untuk mengadudomba antara NU dan kelompok lain yang dicap Wahabi, karena generasi tua NU memiliki memori yang tidak baik terhadap Wahabi. Lalu, di mana wajah Islam damai yang mereka tawarkan? Cara-cara yang mereka lakukan ini persis seperti yang dilakukan oleh Syasy bin Qaisy, penyair Yahudi, yang mengingatkan kembali permusuhan antara suku Aus dan Khazraj dalam Perang Bu’ats. Kalau betul mereka menginginkan perdamaian, mestinya bisa bersikap seperti ‘Umar bin ‘Abdul Aziz ketika ditanya tentang Perang Shiffin, dengan tegas beliau menyatakan, “Ini adalah darah yang telah dibersihkan oleh Allah dari tanganku, maka aku tidak ingin membasahi lidahku dengannya lagi.” Ketiga, ilusi, kebencian dan provokasi: Meski konon merupakan hasil penelitian, tetapi penyusun buku ini tidak bisa membedakan antara fakta dan ilusi. Sebagai karya ilmiah, seharusnya buku tersebut jauh dari kebencian, dan apalagi provokasi yang sangat narsis. Karena itu, isi buku ini akhirnya terjebak pada kepentingan sponsornya, dan sama sekali jauh dari obyektivitas ilmiah, lazimnya sebuah karya ilmiah.
Dari aspek penyusun dan penerbitnya: Sebagaimana diakui oleh Abdurrahman Wahid, buku ini adalah hasil penelitian Lib-ForAll Foundation, sebuah LSM yang memperjuangkan terwujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi di seluruh dunia. Abdurrahman Wahid bersama C. Holland Taylor bertindak sebagai pendiri bersama, sementara bersama-sama KH A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Por. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Porf. Dr. Nasr Hamid Abu-Zayd, Syeikh Musa Admani, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit dan Romo Franz Magnis Suseno menjadi penasehat LSM tersebut. Mereka selama ini dikenal sebagai tokoh Liberal. Bersama sejumlah peneliti lapangan, mereka menyusun buku Ilusi Negara Islam ini, yang kemudian diterbitkan bersama oleh the Wahid Institute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Lib-ForAll Foundation sendiri bermarkas di AS, dan didirikan pasca peristiwa 11/9, dengan tujuan untuk memerangi apa yang mereka sebut Radikalisme Agama. Tokoh-tokoh Lib-ForAll Foundation di Indonesia juga mempunyai hubungan baik dengan Israel, dan sangat membela kepentingan entitas Yahudi itu. Sebaliknya, mereka selama ini dikenal bersikap sumir terhadap syariah, formalisasi syariah dan kelompok Islam yang memperjuangkan syariah.
Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang.
Sebaliknya, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini.
Wassalam,
Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
yg comment sudah pada baca belum? agar komentarnya lebih berkualitas sbaiknya membaca secara komprehensif dulu.
soal hub dg penurunan suara pkb, sy pikir buku ini tidak ada kaitannya karena: 1. gusdur bukan lagi pkb, bhkan gusdur ’senang’ dg turunnya suara pkb pimpinan cak imin. 2. buku ini adalah hasil penelitian yg disiapkan lebih dr 2th yll, jd agak jauh dari hasil pemilu yg baru beberapa hari yll.
ayo…sadarlah garis keras!
baca dulu ah..
mau yang indonesia banget?hidup pancasila
1 ketuhanan yang maha esa,terapkan seluruh aturanNYA dalam setiap aspek hidup pribadi,kelompok, dan negara sebagai bukti iman pada yang maha ESA
2 kemanusiaan yang adil dan beradab,taati aturanNYA agar adil (tepat takaran) dan tak biadab (manusiawi,tidak terkungkung adat tak jelas asal-usul)
3 persatuan indonesia,satukan dg aturanNYA yang tak membedakan pluralitas dalam mengadili dan menyejahterakan
4 kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,ikuti aturanNYA:sebagai ideologi negara=kedaulatan di tanganNYA,kekuasaan di tangan rakyat.dukung musyawarah berdasar aturanNYA-tolak voting/wakil rakyat yang bersuara hanya berdasar nafsu tamak manusia
5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,luaskan keadilan aturanNYA,satukan negeri-negeri dalam naunganNYA
MERDEKA!!! YA ALLAH tunjukkan kami jalan yang lurus untuk menerapkan syariatMU dg sempurna,membuktikan keadilan syariatMU bagi semua jenis manusia,kuatkan kami dalam jalan juang ini.bukakan hati mereka ya ROBB
Jika dilihat dari kata-katanya (keras, emosional dan memang karakternya), maka para pengkritik (garis keras) sudah terjebak dengan sendirinya. Anda semua (orang-orang yang ‘melulu’ emosional) sudah menunjukan bahwa anda itu EXTREME.
Buku Ilusi negara Islam dapat membahayakan ukhuwah Islamiyyah dan mengancam NKRI. Buku ini merupakan balas dendam para penganut “SEPILIS” Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme karena sejak kedatangan Tarbiyah yang mereka sebut-sebut`sebagai “virus” yang berbahaya, “virus ” Tarbiyah berhasil melahirkan generasi Robbani yang merupakan antivirus dari “virus” SEPILIS. Saya yakin seberapapun kalian para penganut SEPILIS berupaya memadamkan cahaya Allah, kalian tidak akan mampu.
Buku lawan dengan buku, kalau nggak setuju dengan isi buku ayo terbitkan buku tandingan (emang bisa …?). NU dan Muhammadiyah punya nama besar, jadi nggak mungkin nerbitkan buku sembarangan. Kalau nggak puas, digugata aja (pakai pasal apa kek), biar rame sekalian, biar terbuka belangnya para kaum wahabian. Ngaji dulu yang mateng, biar bisa bedain mana islam. mana arab; mana agama, mana pemikiran keagamaan; mana Muhammad sang nabi, mana manusia biasa (kalau jenggot arab dipiara bagus, kalau jenggot melayu mah kaya kambing, gamis dam sorban dipake di arab bagus, kalau disini. walah, walah…., nabi minumnya susu kambing, wong disana nggak ada sapi, waktu itu…..). Jangan2 ngajinya baru sampe bab marah doang ……INDONESIA YES, ARAB NO, ISLAM YES, NEGARA ISLAM NO !!!
ISLAM YA ISLAM. KLO ISLAMNYA CUMA BISA SOLAT GA PERNAH NGAJI.BISA MENJADI ORANG MUNAFIQ YANG TIDAK BISA MENGERTI ISLAM. ISLAM BUKAN FAHAM YANG MEMBELA YANG BANYAK. TAPI ISLAM MEMBELA DAN MENGANUT YANG BENAR DAN HAKIKI.TEGAKKAN ISLAM HILANGKAN SISTEM DEMOKRASI=DEMOCRAZY KAPITALIS SEKULER,APALAGI KOMUNIS.TEGAKAN DENGAN PEMERINTAHAN ALA ROSULLALLAH.YANG BAIK.
Klo cuma ilusi….., mbok ya ndak usah diurusin, sampai penelitiannya 2 tahun segala.
Siapa yg mau disebut kafir,munafik,musuh Allah..sedangkan sudah syahadat,sedih disebut begitu sm saudara muslim sendiri yg mengaku mw syariah tegak.
Saling serang saling hina,sampai mau membunuh satu sama lain.apa ini islam?kenapa Allah menakdirkan aku beragama spt ini?aku ingin sll bersama Allah,tenang damai gk terpaksa dan dipaksa.aku cinta damai.
Kalo Gus dur itu menelitinya bagaimana ya???
yg pro buku komentarnya lebih kalem,
yg kontra buku komentarnya lebih galak.
menarik ya…mo nanya nih? wajah islam tuh gimana?
namanya juga ilusi.. isinya ya ngalor ngidul.. gag jelas… biasa.. UUD… Ujung Ujungnya Duit..
demokrasi emang diharamkan.. demokrasi itu mengandalkan suara terbanyak.. sedangkan suara terbanyak itu belum tentu baik, karena dari semua yang memilih belum tentu semuanya adalah baik, mungkin saja salah…
tapi demokrasi yang ada di indonesia adalah berlandaskan Pancasila.. dimana sila pertama adalah KeTuhanan YME..
gus gus ni sepertinya dah terpengaruh ma luar…
terimakasih kepada penulis anda telah menebar penceran bagi kami dengan terbitnya buku itu saya mendapatkan mendapatkan jawaban atas gejolak keislaman saat ini,terus berkarya, sy salut akan buku itu
Benci sama Yahudi boleh saja, tapi yg proposional dan kontekstual kang!
Jangan segala yg “berbau” Yahudi mau diantipati dan gebyah uyah semua, itu ngawur dan tolol namanya!
Ingat, Muhammad SAW dulu bersahabat dengan Yahudi dan Nasrani (Yahudi dan Nasrani yg sejati), bahkan menurut nabi, Yahudi dan Nasrani itu agamanya satu/sama dgn agama beliau, nih baca pesan Sang nabi: Rasulullah berkata: “…….Aku lebih berhak atas Isa putera Maryam di dunia dan di akhirat. Para nabi adalah satu ayah dari ibu yang berbeda dan AGAMA MEREKA ADALAH SATU.” (Hadits Bukhari 1501).
Muhammad SAW memang pernah membenci Yahudi, tapi Yahudi yang seperti apa dulu? Hati2 jangan membabibuta (biar kelakuan tidak spt babibuta). Para nabi Yahudi - Yesus - Muhammad semua agamanya satu, di istilah Yahudi disebut Monotheis (Agamanya bangsa Yahudi, bukan Agama yg bernama “Agama Yahudi”), pengikut Yesus karena berasal dari Nasaret maka disebut Nasrani, nah, ketika sampai di Arab, ajaran yang “Satu” tersebut dikenal sebagai “taat/Pasrah/damai” yaitu bahasa Arabnya “Islam”. Islam itu sikap hidup kang, bukan institusi atau organisasi, apalagi negara, yg harus diperjuangkan. Islam dalam makna sikap hidup musti dibedakan dengan Islam dlm makna institusional. Dan islam sejati adalah yg cinta damai (sesuai dgn makna “Islam”), bukan Islam2 Pentungan macam FPI dkknya itu, bisa saja mereka ngotot sebagai Islam, tapi itu Islam Palsu namanya. Dan ingat, jangan dikira Islam itu identik dgn Arab budayanya saja lho, sebab semua nabi Yahudi (termasuk Yesus)mereka semua sudah “islam” jauh berabad2 sebelum islam berkembang di Arab.
Rajin sholat + mahir bahasa Arab, tapi kaga ngerti maknanya. Kalau ente2 pada ngerasa sebagai islam (agama cinta) mohon buktikan cinta kasihsayang ente2 dgn perbuatan nyata. Islam kok ngamuk-an, pentungan, sadis, maka jangan salahkan org banyak yg jadi antipati dgn Islam. Islam dianggap sebagai agama teror jelas karena si penilai telah merasa terteror (takut), coba ente2 bersikap santun dan kasih sayang, pasti non muslim akan suka dgn islam.
Pintar ngomong bahasa Arab tapi ga’ tahu hakikat esensinya. Mending org2 yg sholat dua bahasa tapi paham esensinya. Sama bahasa kok fanatik, bodoh sekali org2 itu.
90% nabi2 yg diakui dalam Al Qur’an jelas adalah orang Yahudi dan berbahasa Yahudi, apa nabi2 Yahudi yang cinta damai itu semua kafir karena selalu doa (sholat) pakai bahasa Yahudi dan bukan bhs Arab?
wah rame saya pengen tau kalo syariah jalan sekarang mungkin lebih baik
Krisis Ekonomi Dunia:
1. Jerman Tahun 1920
2. Amerika Latin Tahun 1970
3. Jepang Tahun 1990
4. Meksiko Tahun 1994
5. Brasil, Rusia, Indonesia Tahun 1998
6. Turki Tahun 2001
7. Argentina Tahun 2002
8. Amerika Serikat Tahun 2007
Emas adalah Mata uang buatan Alloh seperti dinar(dari jaman mbah buyut ampe sekarang sama).
Bandingkan dengan harga saham, Obligasi, pasar komoditas yang dibuat oleh manusia.
Sekrisis-krisisnya dunia Nilai Emas pasti tetap.
maaf melenceng coba kembali ke alquran sekarang kan bayak ngaku islam ngaji aja belum solat ga jalan bicara islam lucu juga ya saya mualaf aja suka dengan alquran isinya jelas ga seperti ilusi negara islam yang jadi antek-antek yahudi untuk bercokol di indonesia lewat orang yang katanya islam. coba renungkan dulu kita bener islam or Pluralis sih kita ga hidup didunia aja kita ada hari perhitungan diakherat jadi jangan terjebak dengan Prularis harusnya islami dulu buat yang ngaku islam
bagusnya dipertemukan saja ulama NU, Muhammadiyah, PKS, HTI, Al-Qaeda, Islam Mujahiddin dalam debat terbuka. Tapi, sepertinya perlu ketegasan pemerintah nih.
KITA AKAN TAU SIAPA YANG HANYA NGAKU2 ISLAM DAN ASLI ISLAM.
TERNYATA BANYAK ORANG YANG HANYA NUMPANG LAHIR DI INDONESIA TAPI JIWA MEREKA TIDAK SAMA SEKALI.
Buku ini memang sengaja dibuat untuk menghantam Islam Fundamental yg ingin tegaknya Syariah dan Khilafah.. Penulis2nya para PEMBOHONG dan Pembuat Makar thd Islam.. Pengembangan buku ini didanai oleh Amerika dan kunyuk2nya.. Waspadalah penjajahan asing melalui para pengkhianat ini yg sok nasionalis.. Cuiihhh… Kami akan terus bergerak HANCURKAN JIL dan agen Liberal.. Berangus dan BUBARKAN JIL…
hmmmm..
begitu ya?
terima kasih saja ya.. buat infonya.
Astaghfirulloohal ‘adhiim …… Innallooha Ghofuururrohiim. Alloohummaj’al baldatanaa Indonesia wabilaadil Muslimiina ‘aammah baldatan Toyyibatan
lucu, gak dong aku. jadi pengen baca bukunya,, apakah benar2 kontroversial. Subhanallah, Islam memiliki banyak umat-umat kritis…